menjadi karyawan merupakan hal yang sudah sangat lazim bagi kebanyakan pemuda/i Indonesia. Bagi yang merasa cukup (atau terbentur kendala), selepas pendidikan menengah langsung menceburkan diri pada kerasnya dunia kerja. Menjalani sekian banyak pilihan profesi yang pada intinya berupaya menghasilkan sekian rupiah demi menyambung hidup. Apapun jenis pekerjaannya, yang terpenting adalah mendapatkan penghasilan berupa gaji.
Yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi pun begitu juga adanya. Setelah sukses meraih gelar baik diploma maupun sarjana, segera bertarung di laga pencarian bakat ech salah pencarian lowongan kerja. Makanya gak heran kalo bursa tenaga kerja senantiasa ramai.
Sedihnya, gue pun begitu adanya. Walaupun demikian gue bersyukur bahwa gue mendapatkan pekerjaan sebelum kuliah selesai. Bahkan kelulusan “terpaksa” diundur demi kerja. Lebih mementingkan untuk meraih rupiah ketimbang menyelesaikan kuliah. Jikalau tidak diingatkan ortu, mungkin makin kebablasan untuk meraup rupiah.
Sekarang roda waktu telah berputar. Semuanya tidak seperti dulu lagi. Ada sedikit “kejenuhan” dalam pencarian rupiah di akhir bulan. Hidup dari gaji ke gaji. Akhir bulan adalah waktu yang menyenangkan ketika menerima gaji. Tetapi seperti menguap, gaji pun pelan2 tergerus dengan semua kebutuhan. Mulai dari konsumsi, bayar hutang, biaya hiburan dan sebagainya; tidak menyisakan jumlah yang signifikan untuk berinvestasi
hidup dari gaji ke gaji. Terima sekian dikeluarkan sekian. Bertahan hingga gajian berikutnya. Kerja pun hanya mengharap pada gaji. Untuk yang sedikit beruntung, mungkin gaji yang diterima bisa mendanai semua kebutuhannya dan masih berlebih. Bagaimana dengan yang kurang beruntung? Apakah akan terus terseret dalam pusaran hidup dari gaji ke gaji?
Dalam kasus gue, gue bersyukur bahwa gue masih ada kesempatan untuk menyisihkan sekian rupiah untuk simpanan. Tapi sebagai manusia gue tida pernah merasa cukup puas dengan apa yang diperoleh, masih ada peluang dan kesempatan untuk mendapatkan hal yang lebih. Kemampuan diri belum diolah sedemikian rupa untuk mendapatkan yang lebih. (kita akan bicara hal ini pada bagian lain).
Bagaimana menyikapi hidup yang dari gaji ke gaji itu?
Gue akan berbagi bagaimana cara gue menyikapi kondisi tersebut diatas.
1. Tentukan biaya2 pokok yang tidak bisa dikurangi. Biasanya ini terkait dengan konsumsi pokok seperti pangan sandang dan papan. Pos biasa ini sebaiknya diprioritaskan untuk tidak dikurangi. Jikalaupun ada yang mesti dikurangi, mungkin pos sandang dan papan. Tak perlulah berjibaku untuk membeli pakaian yang mewah / mahal. Gunakan kreatifitas untuk menyiasati kebutuhan sandang ini.
2. Lunasi utang2. Hidup tanpa utang, mungkin hidup yang menyenangkan, tetapi utang bukanlah hal yang mudah untuk dihindari. Kebutuhan yang datang tiba dan mendesak, memaksa untuk berutang. Utang pun bisa dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dalam mengelola keuangan (pada level2 yang lebih tinggi). Sebelum utang datang mencekik lebih dalam, lunasilah utang tersebut.
3. Amal, sumbangan dan lain sebagainya. Ini adalah point keberuntungan yang sering kali dilupakan oleh banyak orang. Pos ini memang terlihat seperti cost centre yang tidak mendatangkan keuntungan apapun. Tapi yakinkanlah ada invisible hand yang bermain di pos biaya ini. Jadi sisihkan sebagian dari penghasilan untuk pos ini, serta lupakan besarannya. Biarkan Ia yang menghitungnya.
4. Tabungan. Ini nih yang seringkali sulit direalisasikan karena biasanya uang hasil gajian sudah habis untuk pos2 diatas. Tapi bukan berarti tidak bisa menyisihkan sekian rupiah untuk menabung bukan? Ada trik yang bisa digunakan, yakni memotong langsung sekian rupiah untuk menabung. Masukkan ke rekening tabungan yang berbeda dan lupakan. Baru ingat jika kondisi sedemikian mendesak. Diluar itu, anggap saja sebagai uang yang hilang.
5. Berusaha lebih keras untuk mendapatkan gaji yang lebih baik. Gak bisa dipungkiri, langkah ini yang harus senantiasa dilakukan bilamana gaji yang diterima masih terasa kurang. Mencari terobosan2 baru dalam meraih sejumput rupiah guna menutupi kekurangan yang ada. Saran gue: lakukan dengan jalan yang halal, bukan dengan jalan yang haram.
Sikap mental dan sikap hidup memang berpengaruh dalam kondisi hidup dari gaji ke gaji. Hanya mereka yang bisa mengendalikan diri-lah yang mampu bertahan dan keluar dari kondisi hidup dari gaji ke gaji. Mungkin juga ada orang yang betah dengan kondisi hidup dari gaji ke gaji, mungkin karena jumlah yang mereka terima melebihi kebutuhannya – sungguh beruntung
.
tapi bagi mereka yang kurang beruntung, hanya ada kemauan dan usaha serta ketekunan untuk keluar dari pola hidup yang mungkin kurang mengenakkan ini.
Apapun sikap anda, lakukanlah dengan konsisten dan yakinkan bahwa anda telah mencapai tingkatan dimana anda sudah tidak dapat berbuat apa2 lagi. Tapi ingatlah hanya langit batas anda
relung hati, 6 nop 2009
November 6, 2009 pukul 7:35 am |
jadi kontraktor: dikontrak suruh ngantor
November 6, 2009 pukul 7:45 am |
wah menarik juga tuh jadi kontraktor.. semoga gak tiap bulan gak susah mikirin uang kontrakan.. hehheeh..
November 6, 2009 pukul 3:01 pm |
senang membacainya
November 9, 2009 pukul 12:36 am |
hai.. terima kasih sudah berkunjung..
semoga tipsnya berguna yah
November 6, 2009 pukul 5:31 pm |
gajian tanggal 2 tapi tanggal 3 udah abis buat bayar utang
gmn donk nich mas boci…. hehehe
November 9, 2009 pukul 12:36 am |
waduh.. kok cepet banget yah Kak Don…
gak sampai 24 jam sudah habis..
mmm gmana kalau langsung potong untuk ditabung..
sukses yah Kak Dony
Desember 22, 2009 pukul 7:13 am |
jadi karyawan kadang bawa prestise bro..
enjoy aja
Desember 22, 2009 pukul 7:16 am |
da gajian belum?